post image
KOMENTAR
Kabar duka datang menghampiri dunia sastra Indonesia. Sastrawan Sitor Situmorang tutup usia.

Kabar duka tentang Sitor disampaikan sejarawan JJ Rizal. Sitor yang sering digolongkan sebagai penyair atau punjangga angkatan 45 bersama dengan Chairil Anwar dan Sanusi Pane, meninggal dunia pada usai 91 tahun.  

"Pagi ini dapat berita dari Apeldoorn, Belanda, sasterawan #SitorSitumorang meninggal dunia," kicau JJ Rizal  dalam akun twitternya @JJRizal (Minggu, 21/12).

Sitor merupakan sastrawan penting Indonesia. Sitor dikenal sebagai sastrawan yang memiliki semangat dan konsisten dalam mempertahankan idealisme hingga usia senja. Sering digolongkan sebagai penyair atau punjangga angkatan 45, Sitor adalah penyair yang diilhami oleh semangat memberontak demi kemerdekaan.

"Tidak mungkin membahas sejarah kesusasteraan modern Indonesia tanpa menyebut nama #SitorSitumorang," kicau JJ Rizal lagi.

Sitor yang lahir di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 2 Oktober 1923 telah banyak menciptakan karya puisi yang fenomenal, seperti yang terangkum dalam kumpulan puisi Surat Kertas Hijau (1954), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954) dan cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956).

Selain bergelut dalam dunia sastra, Sitor juga meniti karir sebagai wartawan. Ia pernah menjadi pewarta berita di berbagai media, seperti Harian Suara Nasional, Waspada dan Warta Dunia. Selain itu, dia juga tercatat aktif di Partai Nasional Indoenesia (PNI) dan kemudian diberi amanat untuk menjadi Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) di akhir dekade 1950-an. LKN merupakan organisasi kebudayaan yang berafiliasi pada PNI. Sejak saat itulah Sitor terlibat secara total dalam kancah perpolitikan nasional.

Di masa Demokrasi Terpimpin, Sitor bersama LKN yang dipimpinnnya menjadi pendukung setia kebijakan Presiden Soekarno, khususnya di sektor kebudayaan. Tak aneh jika Sitor disebut banyak kalangan sebagai penyair Soekarnois.Dari berbagai sumber, setelah tragedi Gerakan Satu Oktober (Gestok) 1965 kekuatan Soekarnois dan komunis terpukul oleh kekuatan baru yang diberi label ‘Orde Baru’. Sitor yang menjadi bagian dari kelompok pendukung Soekarno pun turut ‘disasar’. Ia akhirnya djebloskan ke penjara Gang Tengah Salemba di tahun 1967 tanpa proses peradilan.

Delapan tahun lamanya Sitor mendekam di penjara. Selama itu pula ia tetap konsisten menjadi seorang Soekarnois tanpa ada maksud secuil pun untuk ‘cari aman’ dengan mengingkari pendiriannya. Dia juga konsisten dalam berkarya. Selama dalam tahanan, Sitor berhasil menggubah dua karya sastra yang berjudul Dinding Waktu” dan Peta Perjalanan”.

Pada tahun 1975, Sitor dilepaskan dari bui. Namun ia tetap dikenai status tahanan rumah hingga tahun 1976. Berbagai kesulitan hidup pun dialami oleh Sitor dan keluarga, seperti halnya mantan tahanan politik (tapol) lainnya di era Orde Baru.Untuk menghindari tekanan politik lebih lanjut dari rezim Soeharto, Sitor memilih menetap di Paris, Perancis.

Pada tahun 1981, Sitor pindah ke Belanda dan menjadi dosen di Universitas Leiden selama sepuluh tahun. Setelah itu, Sitor kembali berpindah-pindah tempat dari Perancis hingga Pakistan. Sitor kembali ke Indonesia setelah kejatuhan Soeharto tahun 1998.[hta/rmol]

Bank Sumut Kembalikan Fitrah Pembangunan, Kembangkan Potensi yang Belum Tergali

Sebelumnya

Berhasil Kumpulkan Dana Rp 30 Juta, Pemkot Palembang Sumbang Untuk Beli APD Tenaga Medis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ragam