post image
KOMENTAR
MBC. Penganiayaan dan pembunuhan berencana terhadap petani penolak tambang telah menjadi perhatian dan persoalan serius di dalam Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan organisasi sipil seperti WALHI, LBH, KontraS, KPA, PIL-Net dan JATAM. Pasalnya, dua warga Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, diduga menjadi korban amuk massa, Sabtu pagi, 26 September 2015.

Manajer Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Muhnur Satyahaprabu, mengatakan konflik pertambangan kabupaten Lumajang ini sebenarnya sudah terjadi dua tahun lalu dan puncaknya terjadi pembunuhan dan penganiayaan tanggal 26 september kemarin.

Muhnur Satyahaprabu menceritakan, pada 9 Maret lalu, masyarakat Lumajang datang ke Walhi untuk menolak penambangan-penambangan ilegal. Pada 9 September lalu, masyarakat melakukan aksi damai, dan pada 10 September itu pengancaman secara terbuka sudah dimulai. Lalu pada 11 September masyarakat melaporkan segala pengancaman itu pada polres Kopajang.

"19 September, kapolres membuat tim investigasi. Pada 21 september, masyarakat melaporkan ada penambangan Ilegal di desa selok Awar-awa. Lalu 25 melakukan aksi lagi dan terakhir tanggal 26 terjadi pembunuhan tersebut," ujarnya dalam jumpa pers di Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat (28/9).

Dia juga mengatakan, Korban yang mati terbunuh yakni Salim Kancil (46 th). Dia dianiaya secata beramai-ramai dengan kedua tangan terikat. Kemudian disiksa dengan cara dipukul dengan batu dan benda keras lainnya. Setelah meninggal, mayatnya dibuang di tepi jalan dekat areal pemakaman.

Tidak cukup dengan itu, Muhnur juga mengatakan, petani lainnya juga mengalami hal yang sama yaitu Tosan. Dia juga dianiaya didekat rumahnya walaupun dia sempat melakukan perlawanan tetapi akhirnya roboh juga oleh puluhan orang yang tidak dikenal. Saat ini Tosan dirawat di rumah sakit dengan kondisi kritis.

"Pembuhuna ini bukan hanya tentang pro dan kontra pertambangan, tapi jauh dari itu, ini adalah satu skenario besar yang diduga dilakukan oleh PT. Indo Modern Mining Sejahtera" demikian Muhnur. [hta/rmol]

Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Komunitas