post image
KOMENTAR
SEBATANG pohon dapat tumbuh besar hingga memberikan perlindungan dan penghidupan kepada seluruh makhluk yang bernaung di kedamaiannya.  Ada kalanya sebuah pohon juga tidak lagi menjadi damai untuk tempat bernanung setiap apapun.

Ketika sebuah pohon tidak lagi damai, beberapa makhluk yang naif akan menyatakan bahwa ada yang salah dengan buahnya, daunnya, rantingnya, dan batangnya. Berbeda dengan beberapa makhluk yang memiliki nalar kritis merdeka dalam memandang dan menilai sesuatu, pasti langsung mengatakan ada masalah pada akarnya.

Kurang lebih seperti itu kondisi yang identik untuk mengimajinasikan tentang apa yang sedang terjadi di sebuah partai berjuluk pohon beringin, Golkar. Pohon beringin itu tidak lagi menjadi tempat berlindung dan hidupnya masyarakat Indonesia, Golkar sudah tidak ramah lagi.

Dugaan tersebut muncul dan menjadi semakin kuat ketika pohon beringin ini terbelah dua. Belahan pertama dan yang berukuran lebih besar diklaim oleh ARB sedangkan belahan kedua, yang tidak lebih besar diklaim oleh AL.
Apakah kedua kubu itu memiliki sindrom kesadaran naif? Mereka berpemahaman bahwa pembelahan adalah solusi untuk menyelesaikan masalah pohon beringin itu.

Apakah mereka tidak paham bahwa akar pohon beringin itu yang sedang sakit? Kenapa pohon beringin itu harus dibelah?

 Pembelahan pohon beringin itu ternyata tidak ujug-ujug terjadi. Ada sebuah prakondisi yang menenggarainya. Hal tersebut adalah hasil dari sebuah analisis yang mengatakan bahwa ARB dan AL adalah orang cerdas, ditokohkan, tidak mungkin memiliki kesadaran yang naif.

 Maka terdapat sebuah tarikan kesimpulan yang menyatakan bahwa tidak ada niatan untuk menjadikan kembali pohon beringin itu sebagai tempat bernaung masyarakat Indonesia. Ada kepentingan pribadi baik dari ARB ataupun AL pada situasi ini, hasrat kepentingan, haus kekuasaan.
 
Menjelang akhir Januari, dugaan di atas semakin mendapatkan pundi referensi, membuat dugaan tersebut semakin tinggi. Bos-bos hutan, pemere(i)ntah, datang  memberikan bala bantuan kepada ARB dan AL. ARB dibantu oleh bos hutan berinisial JKW, AL dibantu oleh bos hutan berinisial JK. Dibantunya ARB oleh JKW terlihat dari bersatunya mereka dalam sebuah guyonan bernama pemere(i)ntahan. Sedangkan dibantunya AL oleh JK sudah berjalan sejak hari-hari kemarin, namun semakin kuat tandanya ditandai dengan kompaknya ketidakhadiran mereka pada sebuah rapat yang membahas penyelamatan pohon beringin.

Bantuan-bantuan tersebut cenderung terlihat  mengandung adanya sebuah tujuan yang tersembunyi, bukan untuk memperbaiki pohon beringin itu dan bukan juga untuk memaksimalkan petugas hutan bernama pemerintah.
Bantuan-bantuan tersebut ditujukan untuk merebut pohon beringin, Golkar, dan dijadikan sebagai tempat bernaung dan menguatkan sebuah kelompok.

Bahasa gamblangnya, kalau ARB yang akhirnya menguasai pohon beringin seutuhnya, maka posisi JKW akan semakin kuat untuk melanggengkan misi-misi pribadinya.

Sebaliknya kalau AL yang menguasai, maka  JK yang akan semakin kuat. Dan penguatan-penguatan tersebut bukan untuk kemajuan Indonesia, tapi malah berpotensi untuk mempertahankan kepentingan sebagaian kelompok. Bukankah itu sama saja dengan upaya menghancurkan Indonesia? Karena konsep memajukan itu harus untuk kepentingan bersama.

Jadi memang upaya penyelamatan atas kondisi pohon beringin, Golkar, bukan bertujuan untuk memfungsikannya kembali sebagai tempat bernaung, berlindung dan hidupnya masyarakat.

Lalu, jika pohon terbesar di Indonesia itu sakit atau ketika kembali sehat akan digunakan sebagai tempat berlindung dan hidup satu kelompok saja, kemana masyarakat harus bernaung? 
Apakah masyarakat harus berpanas-panasan, berjuang dibawah terik matahari untuk dapat mempertahankan hidupnya?

Sebuah kebenaran apabila dikatakan bahwa masyarakat harus bisa berjuang dengan mandiri dan kuat. Akan tetapi, untuk hidup saja masyarakat tidak akan mampu jika tidak ada sumber penghidupan dan perlindungan, apalagi untuk berjuang.

Jika memang konflik kepentingan ini yang terus menjadi induksi tarik menarik pohon beringin, Golkar, maka akarnya akan menjadi lebih dari sekedar sakit.
Kelak, pohon beringin (Golkar) itu tak lagi berakar.
Jika kesadaran naif telah terbang terlepas dari setiap makhluk yang berharap besar pada pohon beringin itu, maka suara-suara pemberontakan untuk melaksanakan perbaikan hingga ke akar akan sesak mengisi ruang.

Sebab, jika pohon beringin itu benar-benar sehat dari akar hingga dedaunan, maka dapat dipastikan pohon beringin itu akan menjadi salah satu komponen dalam mensejahterakan dan memakmurkan Indonesia seutuhnya.


#NikmatnyaSeranganFajar

Jutaan Umat Islam Indonesia Telah Bersatu Dalam Gerakan Masif, Tak Pernah Disangka

Sebelumnya

Ketergilasan Gerakan Masif Jutaan Umat Islam Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Serangan Fajar