post image
KOMENTAR
“AKU berpikir maka aku ada”, kata Descartes.

Sepenggal kalimat yang disampaikan berabad-abad lalu. Pemikir itu telah melihat jauh ke depan, tentang potensi kerusakan di atas bumi. Kalimat tersebut pasti memiliki makna yang luas.

Bukan hanya tentang sebuah ide dan bukan sekadar tentang jasad. Bukan hanya setelah berpikir, walaupun tidak berbuat apa-apa, dikatakan sudah ada. Ini tentang buah dari proses berpikir akan mewujudkan sebuah materi atau perilaku jasad yang akan menentukan kesuksesan sebuah peradaban.

Produktifitas jasad tidak akan berguna untuk sebuah peradaban jika tidak diawali dari proses berpikir. Proses berpikir adalah sebuah aktivitas yang mulia.

Semasa proses berpikir sedang berjalan, hati dan jiwa humanisasi akan menjadi guru spiritualnya, memastikan tidak ada dehumanisasi dalam proses berpikir. Jika ada yang mengatakan telah menjalankan proses berpikir, namun mematerikan nilai dehumanisasi, itu bukan berpikir, itu hanya sebuah nafsu dan syahwat negatif.

 Menjadi jelas pesan substansi dari apa yang disampaikan oleh Descrates di dalam kalimat tersebut. Suksesnya sebuah peradaban dimulai dari sebuah proses berpikir yang akan menciptakan material-material humanisasi.

Telah terbukti jika  perilaku dari jasad, sesuatu yang termaterikan tidak diawali dengan proses berpikir, premanisme contohnya, akan menyebabkan kerusakan pada sebuah peradaban.

 Menggunakan keperkasaan sebuah jasad, terkadang dibantu oleh material-material yang dapat menimbulkan pertumpahan darah, mendapatkan panggung yang mewah di salah satu kota terbesar Indonesia, Medan.

Dapat dipastikan perilaku gila yang terjadi kemarin antara kelompok yang mengaku sebagai Pancasila dan mengaku sebagai pemuda, tindakannya tidak menggunakan proses berpikir, termasuk tidak menggunakan makna luhur Pancasila dan pemuda. Lihatlah apa jadinya jika budaya berpikir dan intelektualitas tidak hadir di suatu tempat!

Siapapun dan apapun tujuan dari pihak yang menciptakan grand scenario atas kejadian tersebut, sampai berhasil “mengobrak-abrik” kota Medan disebabkan lemahnya, bahkan hampir tidak adanya budaya intelektual. Ditambah sifat individualisme kronis warganya, premanisme dan hal-hal jahat lainnya dapat berkembang biak dengan gagah di kota ini.

Coba kunjungi perpustakaan daerah, apa yang akan kita temukan di sana? Bagaikan kuburan, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Coba pergi ke ruang-ruang publik, lihat dan rasakan apa yang ada di sana! Seharusnya menjadi ruang untuk memfasilitasi kreasi-kreasi para pemuda, tapi sekarang menjadi tempat orang-orang kapital dan merdekanya sistem kapitalisme.

Coba tanya kepada setiap anak-anak muda di Medan ini, seberapa banyak yang gemar membaca buku? Kita hanya akan menemukan jawaban yang menyatakan bahwa membaca buku itu sangat lawas, tidak penting dan tidak menarik. Budaya membaca sangat sulit untuk dideteksi keberadaannya.
Coba sesekali kunjungi kampus-kampus yang ada di Medan, apa yang dilakukan mahasiswa di sana? Kampus yang menjadi wadah untuk mendapatkan proses akademis dan intektual telah berubah menjadi pabrik yang memproduksi manusia-manusia eksklusif, tamak, mementingkan diri sendiri.

Keadaan yang lebih buruk terjadi ketika satuan mahasiswa yang mengaku perpanjangan tangan dari Pancasila atau pemuda telah datang dan menjadikan premanisme sebagai dasar aktivitasnya di kampus. Sudah tidak ada lagi budaya intelektual di kampus-kampus, atmosfer akademiknya pun kian terdegradasi.

 Hidupnya perpustakaan, sesaknya ruang publik oleh kreatifitas pemuda, maraknya budaya membaca (bukan hanya sekadar tulisan), dan sehatnya kehidupan kampus adalah ciri dari adanya budaya intelektual di suatu tempat. Itu semua tidak ada di kota yang kita cintai ini, Medan, yang menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia. Pada akhirnya warga menjadi apatis, tidak menganggap Medan sebagai kota dan peradaban kecilnya, itulah penyebab dari mudahnya premanisme

Walaupun bentrok premanisme yang terjadi kemarin memang dirancang oleh sebuah kekuatan yang lebih besar, jelas masalah dasarnya terletak pada kemiskinan budaya intelektual.

Lalu apa yang harus dilakukan pemuda atau warga yang masih peduli dengan kota Medan?   

Wujudkanlah budaya intelektual tersebut. Sebab sebesar apapun kekuatan eksternal yang coba mengusik, tetap kekuatan internal yang akan menentukan hasilnya.

#NikmatnyaSeranganFajar  


Jutaan Umat Islam Indonesia Telah Bersatu Dalam Gerakan Masif, Tak Pernah Disangka

Sebelumnya

Ketergilasan Gerakan Masif Jutaan Umat Islam Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Serangan Fajar