Pemerintah menurunkan harga premium dan solar masing-masing Rp 500 per liter. Premium menjadi Rp 6.450 per liter, dan solar menjadi Rp 5.150 per liter.
Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Syarifudin mengatakan seharusnya harga BBM jenis premium bisa Rp 5.114 per liter.
"Kita kan BBM mengikuti MOPS Singapura. Australia ngambil dari sana dengan RON 95 harha jualnya Rp 5.678 MOPS-nya Rp 4.000 per liter. Tapi di Indonesia kualitasnya jelek harganya mahal lagi," kata Ahmad di Jakarta, Senin (4/4).
Menurutnya, perbedaan muncul tergantung cara menghitungnya yakni dimulai dengan harga terkecil. KPBB membagi biaya produksi BBM menjadi lima bagian. Yakni, pembelian minyak mentah sebesar 83,4 persen, lantas ongkos pengolahan 6 persen, angkutan laut 5,8 persen, biaya distribusi 3 persen, dan biaya lain-lain sampai 1,8 persen.
Kemudian, dikalikan dengan nilai tukar rupiah saat ini yang menyentuh Rp 14 ribu. Berdasar hitungannya, muncul harga premium Rp 5.044 per liter.
Dia menegaskan, harga itu berlaku kalau seluruh pengolahan premium dilakukan dalam negeri. Sedangkan harga minyak dunia 59 dolar AS per barel.
"Cara lain, menggunakan metode border price yang hasilnya Rp 6.731 per liter," ungkapnya.
Harga itu muncul dengan mempertimbangkan indeks pasar, kondisi kurs Rupiah, dan kualitas premium yang dijual.
"Jadi kalau mau menekan harga BBM, pemerintah harus lebih dulu menentukan harga belinya, baru harga jualnya agar lebih jelas," katanya. [hta/rmol]
KOMENTAR ANDA