post image
KOMENTAR
Prof Dr Robert Sibarani mengapresiasi upaya yang dilakukan Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos untuk mengajukan 'ulos' yang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional menjadi warisan budaya dunia yang terdaftar di UNESCO. Menurut Direktur Pascasarjana Universitas Sumatera Utara ini, pelestarian nilai budaya sangat dibutuhkan di tengah zaman yang semakin mempercepat degradasi nilai-nilai budaya itu sendiri.

"Degradasi makna ulos yang sesungguhnya di tengah masyarakat adat batak sudah terjadi, perlu ada penataan ulang tentang makna dan manfaat ulos dalam adat Batak," katanya, Kamis (14/7)

Dikatakannya, termasuk dalam praktek sehari-hari, sudah sangat melenceng nilai ulos dalam kehidupan masyarakat Batak. Semisal saat adanya acara adat pernikahan, dimana undangan memberikan 'ulos holong' yang pada dasarnya sudah tidak layak disebut ulos. Nilainya sangat rendah, dan bukan merupakan hasil tenunan penenun yang memproduksi ulos.

"Harganya sangat murah, sangat tidak layak. Lebih baik hanya dijalankan ulos yang seperlunya saja," jelas Direktur Sekolah Pascasarjana USU tersebut.

Dengan adanya pemahaman bersama akan makna sesungguhnya, akan memberikan dampak yang lebih besar bagi pengrajin ulos. Meski tidak dipungkiri, saat ini ada manfaat dari motif ulos dimanfaatkan sebagai busana dan kerajian kreatif lainnya. Hal itu tidak salah, namun perlu ditekankan bahwa 'ulos' yang sesungguhnya bukanlah fisik ulos melainkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kemudian, jika ingin mendaftarkan Ulos menjadi warisan budaya dunia yang diakui UNOESCO, ada berbagai hal yang harus dilakukan. Baik oleh kelompok masyarakat, pemerintah daerah lewat regulasi dan anggaran, serta dukungan dari pemerintah pusat. Untuk itu, panitia masih harus bekerja keras dan proaktif berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Panitia Enni Martalena Pasaribu menyampaikan tujuan kehadirannya bersama panitia lainnya adalah untuk berdiskusi dan meminta wejangan dari Prof Robert Sibarani. Enni bersama Pembina Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos RAY Sinambela, Jimmy Siahaan, Seksi Seminar Manguji Nababan, Ketua 1 Suryani Siahaan, Ketua 2 Rismaria Hutabarat Sekretaris Umum, Inong Hanna Simbolon ST, MM, Sekretaris 1, Ir Susilo Karunianingsih, Bendahara Umum, Vera Pasaribu, Bendahara 1, Royana Marpaung SE, Bendahara 2, Sarma Sianipar, KaBid Humas,Jhony Siahaan dan Adol Frian Rumaijuk, STP.

Enni berterimakasih atas nama panitia untuk saran dan kesempatan yang disampaikan Prof Robert Sibarani. Panitia berharap, tetap bisa mendapat masukan dari akademisi budaya Batak itu. Ditambahkan Enni, panitia akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan diantaranya seminar tentang ulos, pameran ulos, pemilihan duta ulos, pameran martonun dan yang lainnya. Seminar akan mengusung tema "Ulos nantuari, sadari on, dohot ulos haduan (ulos masa lalu, masa kini dan ulos masa depan)".

Ia juga menjelaskan bahwa pada 17 Oktober 2014 pemerintah telah menetapkan ulos sebagai warisan budaya tak benda nasional. Di tahun 2015 telah dilaksanakan peringatan hari ulos pertama di Jl Sei Galang Medan. Pengesahan dari pemerintah tersebut panitia berharap pemerintah menetapkan 17 Oktober jadi kalender nasional sebagai hari ulos.[rgu]

Pakat Melayu, Tegaskan Komitmen Jaga Budaya Melayu

Sebelumnya

Kain Ulos 500 Meter Meriahkan Hari Ulos 2019 Di Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya