post image
KOMENTAR
Designer berdarah Batak, Merdi Sihombing terjun langsung untuk memberikan pelatihan keterampilan pembuatan produk Ec Fashion berbasis Zero Waste khas daerah Kabupaten Humbang Hasundutan. Pelatihan tersebut digelar didermaga Bakara, Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan yang digelar atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan bersama PT Asuransi Sinar Mas (PT ASM).

Merdi mengatakan produk ramah lingkungan dengan memanfaatkan berbagai tumbuhan yang tumbuh di hutan tropis Indonesia merupakan salah satu potensi "senjata" andalan Indonesia dalam Fashion dunia.

"Semua tumbuhan di Indonesia bisa dijadikan warna. Ini kekuatan Produk Indonesia ramah lingkungan," katanya, Sabtu (6/8).

Merdi mengatakan, warna-warni yang didapat dengan mengolah berbagai tumbuhan di Indonesia tidak jarang membuat mata designer dunia tertuju pada fashion yang dihasilkan. Sebab, tidak semua negara memiliki tumbuhan yang baik untuk dibuat menjadi bahan pewarna produk. Salah satu produk yang akan dipatenkan dalam waktu dekat yakni warna hijau dari rumput Danau Toba.

"Warna hijau toba dari rumput danau nya itu yang akan kita patenkan secara IG. Itu brandingnya," papar Merdi.

Pelatihan ini yang didukung oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Humbang Hasundutan ini terletak dari bahan daur ulang untuk Tie Dye (teknik mewarnai kain dengan cara mengikat kain dengan cara tertentu sebelum dilakukan pencelupan) yang akan menghasilkan berbagai warna.

Direktur Marketinf dan CSR PT ASM Dumasi MM Samosir mengatakan, kegiatan ini juga mereka jadikan sebagai bagian dari Program Rumah Pintar dari perusahaan mereka.

"Kami mengajarkan cara bagaimana memanfaatkan limbah organik basah maupun kering seperti kulit buah dan kulit sayuran atau daun-daunan, sampah pasar dan lain - lain. Bahkan rumput Danau Toba, dijadikan pewarna alami untuk kain," jelas Dumasi.

Wanita yang merupakan warga asli Humbang Hasundutan ini melanjutkan, setelah diambil saripati warnanya, ampas (sampah) sayurannya pun tidak di buang. Ampas itu dimanfaatkan kembali atau didaur ulang untuk menjadi tas suvenir yang ramah lingkungan.

"Setelah itu ampas dari pewarna alam juga dimanfaatkan menjadi kompos, sehingga tanpa sisa (zero waste)," tambahnya.

Dirinya berharap, kedepan dengan pelatihan ini masyarakat Humbang dapat menjadi wirausaha baru dimana produk dari hasil pelatihan ini diharapkan memiliki kwalitas dan berdaya saing.

"Saya optimis sekali, produk yang masyarakat Humbang buat ini akan memiliki kwalitas yang bagus serta berdaya saing. Saya berharap, peserta bisa menjadi pengusaha mikro nantinya," tandas Dumasi.[rgu]

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekonomi