post image
KOMENTAR
Presiden Filipina Rodrigo Duterte menolak meminta maaf atas pernyataannya yang menyebut duta besar Amerika Serikat sebagai 'gay' dan 'anak pelacur'. Duterte berani nantang Paman Sam?

Duterte menyatakan, tak sudi meminta maaf. Dia justru menantang AS. "Saya tidak akan minta maaf untuk apa pun. Ia tidak meminta maaf kepada saya ketika melihat satu sama lain. Mengapa saya harus meminta maaf padanya?" kata dia dilansir The Guardian, kemarin.

Duterte menuding, dubes Philip Goldberg-lah yang memulai pertikaian. "Siapa yang tidak marah padanya? Waktu pemilu dan dia mengatakan sesuatu seperti itu?" tegasnya.

Untuk diketahui, Goldberg mengkritik Duterte menjelang pemilu presiden yang digelar Mei lalu. Dalam kampanyenya, Duterte menjadikan pemerkosaan dan pembunuhan seorang misionaris Australia dalam kerusuhan penjara di Davao City pada 1989 lalu.

"Mereka memperkosa seluruh wanita. Lalu ada perwakilan dari Australia ini. Mereka mengeluarkannya, saya melihat wajahnya dan saya berpikir, 'Dasar anak pelacur.' Sayang sekali. Mereka memperkosa dia, mereka berbaris. Saya marah dia diperkosa, tapi dia sangat cantik. Saya pikir, wali kota seharusnya lebih dulu", ujar Duterte dalam kampanye April lalu.

Goldberg pun mengomentari, "Pernyataan yang dikeluarkan oleh siapa pun, dan di mana pun, yang merendahkan wanita atau meremehkan masalah yang sangat serius soal perkosaan atau pembunuhan, bukan orang yang akan kami maafkan."

Menurut laporan The Philippine Star, membalas pernyataan Goldberg, Duterte dilaporkan secara terbuka menyebutnya "gay" dan "bajingan" pekan lalu.

"Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana dan saya berbicara kepada Menteri Luar Negeri AS John Kerry. Dia baik. Saya sempat cekcok dengan dubesnya (Philip Goldberg), dubesnya yang gay. Dia ikut campur saat pemilu, memberikan pernyataan. Dia tidak seharusnya melakukan itu," kata Duterte, Jumat (5/2). "Bajingan itu sangat mengganggu saya," Duterte menambahkan.

Buntutnya, Departemen Luar Negeri AS pun memanggil Duta Besar ad interim Filipina untuk AS, Patrick Chuasoto, pada awal pekan ini untuk meminta penjelasan soal pernyataan tak pantas itu.

Direktur media Departemen Luar Negeri AS, Elizabeth Trudeau, memaparkan bahwa Chuasoto dipanggil pada Senin (8/8) untuk dimintai penjelasan soal pernyataan Duterte tersebut.

Namun, Trudeau menolak memberikan rincian lebih lanjut soal pemanggilan itu. Yang pasti, Kedutaan Besar AS menegaskan, pernyataan Duterte itu tidak pantas dan tidak dapat diterima.

Kedubes AS pun memperingatkan, bantuan ke Filipina terikat untuk menghormati hak asasi manusia. Sebab seperti diketahui, Duterte mengobarkan perang berdarah terhadap kejahatan yang telah mendorong kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduhnya mentoleransi pembunuhan di luar hukum.

Pernyataan Kedubes AS ini datang saat polisi Filipina menegaskan bahwa mereka telah membunuh 550 tersangka narkoba sejak pemilihan Duterte. Duterte secara terbuka membanggakan, ia telah mengeluarkan perintah tembak mati ke polisi untuk menangani tersangka narkoba.

Kedutaan mengatakan, AS baru-baru ini menyediakan 32 juta dolar AS bantuan ke Filipina untuk penegakan hukum, dana itu bersayarat.

"Semua bantuan keamanan kami mempromosikan hak asasi manusia melalui konten pelatihan dan dengan mempromosikan profesionalisme, proses hukum dan aturan hukum," kata kedutaan.[rgu/rmol]

KOMENTAR ANDA

Baca Juga