post image
Net/Foto
KOMENTAR

Ibu Tanah Air menabur bunga pusara Tanah dipijak bersemayam jiwa perwira Lagu keroncong mengenang gerilya dan jam malam Lupa kapan terakhir kali ibu tersenyum

Ibu Tanah Air kusam berkebaya Kain lawas melilit terkoyak Keriput rupa meradang raga Terseok langkah melepuh luka Ibu tanah air tak lagi elok rupa Tanah berlubang borok bernanah Hutan sirna berasap bara Sawah berlantai beton menjulang angkuh tertawa

Ibu tanah air dalam sejarahnya sendiri terhempas Semua terampas persengkokolan dan keserakahan Semua terjual demi komisi penguasa edan Semua tergadai demi hutang asing yang katanya tanpa agunan

Ibu Tanah Air hatinya remuk binasa Rindu pejuang kehormatan dibela Pahlawan sejati tersingkir mati Penghianat sok suci berlomba minta medali

Ibu Tanah Air lidahnya kelu menahan pilu Rakyat tak mampu kehilangan buku Rakyat sakit harga obat selangit Rakyat melarat di rumah sewa sekarat

Ibu Tanah Air menggugat ikrar yang tak tuntas Keadilan ditentukan penguasa biadab Kesejahteraan hanya angka di atas kertas Kemanusiaan tak lagi beradab

Ibu Tanah Air kehilangan cinta anak anaknya Padahal di sini terlahir dan mati di tanah satu merdeka satu bendera
Kemana perginya ikrar para pemuda? Kemana proklamasi dituju satu bahtera jelajah samudera?

Ibu Tanah Air nyanyi sendiri lagu pusaka Tak gentar sorak bergetar Revolusi perlu sedikit lagi derita dan bersabar? Setidaknya Merah Putih masih berkibar
(Syriana, 16 August 2019)

16 Titik Api Dideteksi Di Sumatera, Singapura Berpotensi Berkabut

Sebelumnya

Anak Kampung Tuai Sarjana Dengan Terseok-seok

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Rumah Kaca