Denny JA yang belakangan melibatkan diri dalam gerakan antidiskriminasi dan antikesetaraan akan menggelar festival film pendek yang diangkat dari lima esai puisi yang ditulisnya. Denny JA beberapa waktu lalu mendirikan Yayasan Indonesia Tanpa Diskriminasi yang bergerak di bidang sosial dan edukasi publik.
Untuk mempromosikan gagasan tanpa diskriminasi itu, misalnya, Denny JA mengirimkan tim pendongeng untuk menghibur anak-anak yang menjadi korban kekerasan di Madura beberapa waktu lalu.
Puncak dari peringatan Hari Sumpah Pemuda yang tengah disiapkan Denny JA adalah festival yang diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 28 Oktober di Bundaran HI, Jakarta Pusat, bersamaan dengan Car Free Day.
Menyambut puncak perayaan, setiap hari Denny akan memutar satu film bertema antidiskriminasi. Di hari pertama, film pendek yang berjudul Romi dan Yuli yang berkisah tentang cinta anak manusia yang diwarnai perdebatan mengenai perbedaan paham agama.
Hari kedua Yayasan Indonesia Tanpa Diskriminasi akan memutar film pendek yang diangkat dari esai puisi Sapu Tangan Fang Yin. Esai puisi dan film pendek ini berkisah mengenai toleransi etnis dan budaya lokal.
Di hari ketiga giliran film Minah Tetap Dipancung yang diputar, Film ini berkisah tentang problem dengan kesetaraan perempuan.
Sementara di hari keempat, film yang diputar berjudul Bunga Kering Perpisahan yang berkisah tentang kasih dua anak manusia yang tak sampai karena perbedaan etnis.
Di hari kelima, sehari sebelum puncak perayaan, akan diputar film berjudul Cinta yang Dirahasiakan. Film ini bertema romantika kehidupan kaum LGBT atau lesbian, gay, biseksual dan transgender.
Kelima film itu, kata Denny JA kepada Rakyat Merdeka Online digarap sutradara muda Hanung Bramantyo.
Lebih dari itu, Denny JA juga mengatakan dirinya bertekad menjadikan Hari Sumpah Pemuda juga sebagai Hari Indonesia Tanpa Diskriminasi. Bagaimanapun juga, sebutnya, negeri ini dapat berdiri hingga kini karena founding father Indonesia mengeyampingkan semua bibit diskriminasi. [rmol/hta]
KOMENTAR ANDA