post image
KOMENTAR
Istana seharusnya tidak perlu emosional dan kebakaran "kumis" menyikapi penyataan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD terkait dugaan adanya Mafia Narkoba di Istana. Ini karena pernyataan Mahfud MD sangat beralasan dan masuk akal.

"Grasi kepada Ola yang merupakan bandar narkoba penuh dengan keanehan dan terkesan sangat dipaksakan," ujar anggota Komisi III DPR, Indra kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu (11/11).

Menurut politisi muda PKS ini, grasi terhadap Ola merupakan sebuah kekeliruan. Ini terlihat dari beberapa hal, diantaranya, pertama, fakta persidangan dan pertimbang hukum putusan hakim mulai dari PN, PT, dan MA memiliki penilaian yang sama bahwa Ola merupak bagian dari sindikat peredaran narkoba, bukan seperti yang disampaikan presiden SBY bahwa Ola hanya seorang kurir.

"Kedua, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada dan telah dikuatkan dengan putusan MK, hukuman mati merupakan hukuman yang konstisional. Jadi tidak tepat menghilangkan hukuman mati untuk Ola, karena melihat tren di negara lain," ujar Indra lagi.

Yang ketiga sambung Indra, rasa kemanusian dan keadilan atas jutaan korban dan keluarganya seharusnya tidak diabaikan hanya demi seorang Ola. Keempat, MA juga telah menyatakan tidak cukup alasan untuk memberikan grasi untuk Ola dan MA merekomendasikan untuk menolak grasi Ola.

Apalagi, sekarang semua semakin jelas dan tidak bisa dibantah lagi bahwa Ola terus mengendalikan perdaran narkoba di balik jeruji.

"Namun kenapa SBY dan para stafnya terkesan mengabaikan rekomendasi MA tersebut," sambungnya.[rmol/hta]

Laporan Keuangan Diterima Dalam RUPS, Pelaporan Hingga Penahanan Mantan Direktur PT GKS Dinilai Rancu

Sebelumnya

Program Rabu 'Walk In Interview' Dikerumuni Pencari Kerja di Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Peristiwa