MBC. Langkah cepat Majelis Syuro Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera menunjuk pengganti Luthfi Hasan Ishaq dinilai kurang tepat. Untuk terhindar dari langkah yang fatal, Dewam Syuro yang dipimpin Hilmi Aminuddin harusnya tidak terburu-buru menunjuk Anis Matta sebagai Presiden PKS yang baru.
"Dewan Syuro harusnya uji publik dulu, kira-kira siapa pengganti yang dianggap publik lebih clean dan dipercaya. Setelah itu baru diputuskan," ujar peneliti senior dari Lingkar Survey Indonesia (LSI), Toto Izul Fatah kepada Rakyat Merdeka Online (grup MedanBagus.com), Jumat malam (1/2).
Hal ini penting, ujarnya, karena penetapan tersangka dan penahanan yang dilakukan KPK terhadap Luthfi Hasan, yang terlibat suap izin kuota impor daging sapi, telah membuat luka yang sangat mendalam bagi PKS. Terjadi kegelisahan internal yang masif dan demoralisasi kader di tingkat akar rumput.
"Luka parah PKS tidak cukup hanya diobati 'Betadhin'. Record moral personal pengganti Luthfi Hasan berkontribusi terhadap pemulihan citra PKS," kata Toto.
Direktur Citra Komunikasi Lingkaran Survey Indonesia (LSI) ini menambahkan, record moral presiden PKS yang baru belum cukup jadi pengobat PKS bisa sembuh dari luka parah akibat kasus hukum Luthfi. PKS masih perlu melakukan gebrakan radikal lainnya. Misalnya, membuat pernyataan tegas dan keras soal korupsi. Atau sikap tegas soal koalisi dengan mengambil sikap yang tidak banci. Misalnya keluar dari koalisi agar lebih bebas melakukan kontrol dan kritik.
"Intinya, perlu dibangun ekspektasi baru dan kepercayaan baru. Ini resiko bagi PKS yang mengusung simbol agama dan moral," ujar Toto. [dem/rmol/ans]
KOMENTAR ANDA