Demikian disampaikan pakar politik Universitas Parahyangan, Prof Asep Warlan Yusuf. "Rasanya akan sangat susah. Tiap daerah punya parameter tersendiri. Buktinya, di Jawa Barat juga kehadiran Jokowi nggak berpengaruh banyak," jelas Asep seperti dilansir Rakyat Merdeka Online, Sabtu (2/3/2013) malam.
Asep bilang, dalam pilkada, faktor utama kemenangan adalah ketokohan calon. Calon yang menang rata-rata adalah mereka yang dianggap dekat dengan warga di daerah itu, dikenal luas, dan mampu komunikasi dengan baik dengan warga.
"Jokowi memang bagus dan dicintai. Tapi, dia kan di sana cuma dua hari. Selesai kampanye pulang. Sementara yang akan memimpin Sumut orang lain. Jadi, nggak akan berpengaruh banyak,” terang Asep.
Ditambahkan Asep, Jokowi juga bukan sosok yang komunikatif dan pandai berpidato. Dalam kampenye Rieke, Jokowi lebih banyak bengongnya. Gaya seperti ini tentu tidak akan banyak memberikan efek untuk menambah suara.
"Di pilkada Jakarta, Jokowi memang tidak perlu pidato. Dia hanya cukup blusukan dan bertemu warga. Tapi sebagai jurkam, tidak mungkin dia blusukan dari kampung ke kampung. Dia harus pidato. Tapi Jokowi tidak punya kemampuan itu. Jadi tidak akan efektif," tandasnya.
Diketahui, kehadiran Jokowi di Pilkada Jawa Barat tidak banyak membantu perolehan suara Rieke. Dalam quick count lembaga-lembaga survei dan hasil real count sementara KPU Jawa Barat, Rieke hanya finis di urutan dua setelah Ahmad Heryawan. Selisih suaranya sekitar 3-5 persen. [ded]
KOMENTAR ANDA