post image
KOMENTAR
Pasangan nomor urut lima Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry mengusung program untuk menjadikan Sumut memiliki daya saing dengan daerah lain pada acara Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Jumat (1/3/2013) malam di Hotel Grand Angkasa, Medan.

Ichsanudin Noorsy yang didaulat menjadi panelis di acara itu mencoba memberikan analisis terhadap program yang diusung pasangan PKS dan Hanura ini. Wawancara khusus MedanBagus.Com ini dilakukan usai acara debat.

Menurut Ichsanudin Noorsy, daya saing daerah itu akan terealisasi ketika pemimpinnya mampu memainkan lima indikator kunci.

Pertama sumber daya manusia, kedua sumber daya alam, ketiga infrastruktur yang bagus. Kemudian yang keempat, keuangan yang cukup serta kemampuan menjaga hubungan antar daerah antar provinsi sebagai indikator kelima.

Di sisi lain, kunci daerah yang punya daya saing adalah, kebutuhan dasarnya tidak didatangkan dari luar. Itu kata  kuncinya. Potensi SDM dan SDA-nya harus dimaksimalkan habis-habisan.

"Jadi daerah yang punya daya saing, tidak akan membenarkan adaya impor ikan busuk, tidak akan membenarkan adanya impor gula, impor beras, apalagi impor sapi. Itu tidak mungkin, lahan kita masih luas."



Pada bagian lain, Ichsanudin Noorsy juga mengkritik Gatot Pujo Nugroho yang bangga mendapat penganugerahan inflasi yang lebih rendah dari inflasi nasional.

Menurutnya, hal itu terjadi bukan karena prestasi Gatot dalam menekan inflasi yang rendah. Namun lebih karena daya beli masyarakatnya yang ambruk.

Ichsanudin bilang, indikatornya gampang sekali dilihat. Pertama; karena tingginya tingkat kejahatan di Sumut yang dilatarbelangi faktor ekonomi. Baik itu kejahatan pada umumnya dan kejahatan yang dilakukan mereka 18 tahun ke bawah.

"Ketemu dia dengan index genuine yang saya katakan meningkat. Ketemu dia yang namanya batasan kemiskinan yang hanya Rp 271 ribu dan Rp 226 ribu."

Artinya, sesungguhnya ada problem pada inkam perkapita masyarakat dengan produk domestik bruto (PDB) yang muncul. Sehingga inflasi yang rendah itu lebih menggambarkan karena ketidakmampuan membeli, daya belinya ambruk.

"Jadi menurut saya itu kelemahan pasangan calon nomor lima. Bisa dimaklumi kalau realiasi program itu tak tercapai karena statusnya Plt apalagi kemudian dibatalkan jadi gubernur."

"Itu bisa jadi pembenaran bisa jadi pembelaan. Tapi bukan sekadar pembelaan atau pembenaran seperti itu, kita bicara soal komitmen sekarang untuk ke depan, sehingga masyarakat punya keyakinan bahwa pilihannya benar," pungkas
Ichsanudin Noorsy. [ded]

Laporan Keuangan Diterima Dalam RUPS, Pelaporan Hingga Penahanan Mantan Direktur PT GKS Dinilai Rancu

Sebelumnya

Program Rabu 'Walk In Interview' Dikerumuni Pencari Kerja di Medan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Peristiwa