Hal itu disampaikan Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya seperti dilaporkan Rakyat Merdeka Online sesaat lalu Minggu, (3/3).
Kenapa?
"Informasi dari intelijen yang diterima SBY sering tidak akurat," jawab Mustofa.
"Contohnya, informasi intelijen adanya kelompok teroris yang mengincar dirinya dengan menunjukkan foto penembakan terhadap foto diri SBY. Ternyata itu informasi salah dan usang," sambung Mustofa.
Pada Juli 2009 lalu, Presiden SBY memang menunjukkan ke masyarakat foto dirinya yang dijadikan sasaran tembak oleh orang yang dia sebut sebagai teroris. SBY mengungkapkan itu setelah pemboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton dan saat masyarakat sedang menunggu hasil akhir penghitungan suara pilpres.
"Ini laporan intelijen, bukan fitnah bukan isu. Ada rekaman videonya, ada fotonya. Saya mendapatkan laporan beberapa saat lalu," ujar SBY saat itu.
Tapi saat itu, banyak orang yang menilai foto gambar wajah Presiden SBY yang dijadikan sasaran tembak teroris adalah foto lama.
"Itu foto-foto latihan perang sewaktu kasus kerusuhan Poso," kata bekas anggota Komisi I DPR Permadi saat itu sambil menambahkan foto-foto itu pernah diperlihatkan mantan Kepala Badan Intelejen Negara AM Hendropriyono dalam RDP dengan Komisi I beberapa tahun lalu.[ans]
KOMENTAR ANDA