post image
KOMENTAR
MBC. Pengamat transportasi dari Lembaga Study Advokasi Transportasi Sumut Sukrinaldi menilai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI-red) harus jeli menentukan waktu beroperasinya tiap unit angkutan.

Pasalnya dari hasil rapat penentuan waktu keberangkatan pemenang tender untuk angkutan masal menuju Bandara Internasional Kualanamu ini, menyebutkan jeda waktu keberangkatan tiap unitnya selama 20 menit terlalu riskan.

Kepada MedanBagus.Com, Sabtu (11/5/2013) Sukrinaldi mengatakan jarak yang ideal itu berkisar 10 menit tiap keberangkatan. Jika lebih dari waktu itu, dipastikan pihak DAMRI akan merugi.

"DAMRI Sumut harus belajar dari pengoprasian DAMRI Jakarta. Karena kalau waktu yang ditentukan terlalu lama, akan terjadi penumpukan penumpang di titik-titik yang menjadi sentral penjemputan," terangnya

Berdasarkan pengalaman pengoperasian DAMRI selama ini, urainya, operator lemah dalam perhitungan. Akibatnya orang akan beralih menggunakan angkutan massal lainnya, demi mengejar waktu agar lebih efisien.

"Di Cengkareng-Bandara Soekarno Hatta, jadwal keberangkatan menuju Bandara DAMRI terus mengantre. Itu sebabnya banyak penumpang yang menggunakan angkutan jenis ini untuk menuju bandara internasional," tegas Sukrinaldi.

Terkait tarif yang dikenakan pihak DAMRI kepada penumpang, menurut Sukrinaldi tidak menjadi persoalan. Namun efisiensi waktu serta sentral penjemputan yang harus dievaluasi kembali.

''Agar kedepannya angkutan masal yang dikelola pemerintah ini tidak terus mengalami kerugian, seiring munculnya jenis angkutan baru dengan pelayanan yang cukup maksimal.''[ans]

Kemenkeu Bentuk Dana Siaga Untuk Jaga Ketahanan Pangan

Sebelumnya

PTI Sumut Apresiasi Langkah Bulog Beli Gabah Petani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekonomi