post image
KOMENTAR
Klaim Menteri Pertanian Suswono bahwa Indonesia aman dari krisis pangan patut diragukan. Buktinya, harga jengkol saja sulit dikendalikan karena langka.

Fitri (40), seorang pembeli jengkol di pasar Perumnas Klender mengaku kesal dengan kenaikan harga jengkol yang sampai Rp50 ribu per kilogram (kg). Bahkan, di beberapa tempat di Jakarta, harga jengkol ada yang sampai Rp60 ribu per kg.

''Masa harga jengkol lebih mahal dari ayam,'' katanya kemarin.

Padahal, biasanya dia setiap ke pasar membeli jengkol satu kg. Namun, dengan kenaikan harga ini Fitri hanya membeli seperempat kg saja.

Penjual jengkol di Pasar Baru Bekasi, Sartini, mengaku melonjaknya harga jengkol beberapa hari ini lantaran minimnya pasokan di pasaran. Pasar yang biasa menjual jengkol Palembang saat ini sama sekali tidak ada.  

''Jengkol Palembang masih belum panen, ini yang mengakibatkan jengkol Kalimantan yang saat ini tersedia di pasaran tidak ada saingan. Jadinya mahal,'' ujarnya.

Sartini mengatakan, sejak sepekan ini jengkol yang ada di pasaran merupakan kiriman dari Kalimantan dan harganya terus merangkak naik.

''Setiap hari naik per Rp5 ribu, mulai dari harga Rp25 ribu hingga Rp50 ribu,'' ucapnya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR Firman Subagyo mengatakan, pemerintah gagal mengatur distribusi dan pengendalian harga bahan pokok. Padahal, jengkol salah satu makanan favorit masyarakat meski bukan pokok. Nah, untuk urusan bahan makanan yang tidak pokok saja tidak bisa mengendalikan, bagaimana untuk bahan makanan yang aman.

''Jangan main-main dengan kenaikan harga jengkol itu. Menteri Pertanian (Mentan) Suswono dan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan harus mengawasi itu,'' tegasnya.

Pemerintah sebelumnya juga gagal mengendalikan harga beras, kedelai, jagung dan daging. Harus ada langkah cepat menstabilkan harga tersebut karena akan memasuki bulan puasa. Saat itu, biasanya, harga-harga melonjak tajam akibat tingginya permintaan kebutuhan bahan pokok.

Menurut Firman, saat ini yang harus dilakukan pemerintah adalah bagaimana harga bahan pokok bisa terjangkau. Kendati begitu, dia juga mengingatkan pemerintah agar tidak mengatasinya dengan cara instan, seperti membuka kran impor karena merugikan  petani.

Dia berpendapat, yang harus dilakukan pemerintah adalah memberikan insentif kepada petani.

Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar mengatakan, kenaikan harga jengkol akibat kekurangan pasokan. Apalagi, jengkol merupakan tanaman musiman.

''Hukum dagang adalah ketika demand naik namun supply berkurang maka harganya akan naik,'' jelasnya sebagaimana disiarkan Rakyat Merdeka Online.

Faktor lain adalah menjelang puasa. Hermanto mengatakan, banyak pedagang yang sudah menaikkan harga. Karena itu, yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan sidak ke pasar dan menghukum pedagang atau tengkulak yang sengaja memainkan harga.

Mendag Gita Wirjawan mengatakan, pihaknya akan melakukan sidak ke pasar terkait kenaikan harga jengkol yang menembus Rp50 ribu per kg. Salah satunya, ke Cianjur yang dianggap daerah pemasok Jengkol.

''Kalau gitu minggu ini saya akan sidak lagi untuk tinjau kenaikan itu,'' ujar Gita.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menandaskan, lonjakan harga jengkol akibat turunnya pasokan. [ans]

Emas Naik Diatas $5.200 Per Ons, IHSG Dibuka Di Zona Hijau

Sebelumnya

Aktivitas Pengiriman Terus Bertumbuh, Lion Parcel Perkuat Infrastruktur dan Layanan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi