"Saat merolaksi kami, Pemko Medan berjanji bulan September para pedagang sudah dikembalikan ditempat semula. Tapi apa, sekarang sudah bulan November, tapi revitalisasi yang di janjikan tak kunjung selesai. Tempat yang kami tempati saat ini tidak layak untuk ditempati. Para pengunjung enggan berkunjung ke kios yang berada di jalan pegadaian. Akibatnya penghasilan berkurang dan mengacam keberlangsungan keluarga para pedagang buku," ucap salah seorang orator.
Lebih lanjut sang orator mengatakan, bangunan yang rencananya diperuntukan bagi puluhan pedagang buku Pemko Medan jauh dari harapan. Pasalnya ukuran kios yang berdiameter 1,5 meter x 1,5 meter belum cukup mengakomodir kebutuhan para pedagang. Disamping itu, massa juga menilai akses dan fasilitas lainya juga belum memadai.
"Tangga yang disediakan hanya dua unit, mushola tidak ada. Ini sudah pembohongan publik. Kami juga bagian dari ikon Kota Medan. Percuma rapat yang digelar, tapi hasilnya diluar kesepakatan. Ini syarat korupsi," teriak mereka lagi.
Dalam proses penyampaian protesnya, massa juga membagikan selebaran yang berisi tuntutan mereka. Berikut medanbagus.com mencoba merangkumnya, Selasa (11/11/2014).
1. Mendesak Pemko Medan segera merealisasikan janji revitalisasi para pedwgang buku.
2. Menolak ukuran kios yang disediakan (1,5 m x 1,5 m) karena kurang layak.
3. Meminta Pemko Medan menambah jumlah tangga yang menuju lokasi pedagang buku di lantai dua.
4. Pemko Medan harus realisasikan pembangunan taman baca, musholla dan lainnya sesuai janji yang disepakati waktu rapat.
5. Mengembalikan ukuran lahan seperti semula, karena luasan lahan saat ini terlalu sempit.
6. Memastikan seluruh pedagang yang tergabung dalam organisasi P2BLM mendapat jatah kios.
7. Realisasikan ganti rugi yang di alami para pedagang saat fase relokasi.
8. Pemko Medan juga harus perhatikan ketahanan bangunan revitalisasi sehingga tidak menimbulkan masalah baru kedepannya.[rgu]
KOMENTAR ANDA