Arteria menyebut, menjelang pilpres lalu Abraham bertemu dengan seorang anak petinggi TNI berinisial RNH di rumah timses Jokowi, AM Hendropriyono, kawasan Patal, Senayan. Untuk mendukung ucapannya, Arteria membawa dua bukti foto Abraham. Dalam foto itu Abraham yang mengenakan kemeja biru langit berdiri dengan seorang pria yang mengenakan batik cokelat.
"Ini bukti pelanggar etik yang dilakukan Ketua KPK," ucapnya di RestoBakoel Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, (Minggu, 1/2).
Dia menyebut, pertemuan itu digelar satu pekan sebelum Jokowi mengumumkan cawapresnya. Ada sekitar lima orang yang hadir. Di foto tersebut hanya tampak Samad dan RNH karena yang lainnya di-croping.
Arteria mengklaim punya enam bukti foto pertemuan itu. Semua foto itu sudah diserahkan ke Mabes Polri untuk memperkuat laporan yang disampaikan Hasto. "Materi pertemuan sudah kami sampaikan ke Mabes Polri. Kami mau proses hukum untuk pelanggaran etika ini dilanjut," ucapnya.
Dengan bukti-bukti ini, lanjutnya, Abraham tidak bisa mengelak lagi. Terlebih, RNH juga sudah memberikan kesaksian di Mabes Polri. "Jadi kalau AS masih menyangkal juga, akan ada orang di sebelah sini (sambil menunjuk foto). Karena foto ini saya crop," cetusnya.
Pada Kamis, 22 Januari, Hasto lebih dulu membeberkan pertemuannya dengan Abraham di apartemen The Capital. Kata Hasto, dalam pertemuan itu Abraham memakai masker dan topi agar tidak diketahui publik. Pertemuan ini kemudian dibenarkan oleh Supriansa, pemilik unit di The Capital yang dijadikan lokasi pertemuan itu.
Namun, soal pertemuan Abraham di rumah Hendro, Hasto tidak mau komentar banyak. "Kabarnya KPK akan membentuk Komite Etik. Keterangan akan saya sampaikan kalau Komite Etik KPK mengundang,” ucapnya kepada redaksi, Minggu malam.
Untuk saat ini, Hasto memilih tidak bicara di media dulu. "Sekarang saya ingin diam dulu, biar nggak ada kegaduhan," imbuhnya.
Hasto membantah anggapan dirinya dan PDIP menyerang KPK secara institusi. Menurutnya, semua yang telah dipaparkan hanya untuk mengungkap bahwa ada yang tidak beres di pimpinan KPK.
"Buat apa saya menyerang. Posisi saya di partai juga sudah baik. Yang ingin saya kemukakan adalah, KPK sebagai lembaga yang begitu dipercaya publik dan memiliki kewenang luar biasa, harusnya memiliki pimpinan punya integritas, kejujuran, dan selesai dengan ambisi pribadinya," tegas Hasto.
Jika Komite Etik sudah terbentuk dan mengundangnya, Hasto siap membeberkan semua yang terjadi. Dia juga akan menyerahkan semua bukti mengenai pertemuan dengan Abraham, yang tidak diungkap ke publik. "Niat saya untuk mengemukakan kebenaran," tandasnya. [hta/rmol]
KOMENTAR ANDA