post image
KOMENTAR
PADA zaman kewalian dalam perkembangan ajaran Islam di Nusantara memberikan kesan yang mendalam untuk perjalanan hidup bangsa Indonesia. Aji kungkum salah satunya, menjadi sebuah kesan yang masih banyak dipercaya dan coba digunakan oleh manusia modern Indonesia.

 Praktik aji kungkum ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga dan memiliki manfaat terciptanya kekebalan jasad dari segala marabahaya.

Naluri untuk bertahan hidup (individualistis) manusia Indonesia mengaminkan langgamnya praktik aji kungkum tersebut.  Dengan tingginya kadar individualistis manusia Indonesia, membuat aji kungkum mendapatkan habitatnya. Semakin sosialis suatu komunitas manusia di suatu tempat maka semakin rendah pula naluri sekedar mempertahankan hidup pribadi, kemudian aji kungkum pun semakin ditinggalkan. Sebab, aji kungkum merupakan salah satu simbol dari mental mementingkan diri sendiri dan jauh dari mental mementingkan kebaikan (keselamatan) bersama.

Selain suara-suara burung dan gejolak mental nasionalis, pagelaran aji kungkum juga mendapatkan panggungnya ketika tragedi bom sarinah terjadi. Pagelaran tersebut diperankan oleh masyarakat yang berada di area tragedi bom Sarinah. Di tengah-tengah tragedi tersebut, dengan begitu mengagumkan masyarakat waktu itu mempraktikkan ilmu kekebalan jasadnya. Pagelaran tersebut tersegmentasi menjadi dua bagian.

Bagian pertama mempertunjukkan ilmu kebal jasad terhadap potensi keberbahayaan. Kedua, mempertunjukkan ilmu kebal tubuh terhadap rasa empati. Perlu juga kita pahami bahwa ilmu kebal itu sama dengan kemampuan melepaskan kepekaan.
Pada segmen pertama, ilmu kebal jasad masyarakat pada waktu itu ditunjukkan dengan tidak ada kepekaan dan kewaspadaan terhadap bahaya yang memiliki potensi untuk dapat terjadi kapan saja. Sesaat setelah aksi teror di sarinah dimulai, masyarakat tidak mencari tempat yang aman sebagai perlindungan atas keselamatannya. Masyarakat berbondong mengambil posisi di jarak yang tidak jauh dari baku tembak antara polisi dan pelaku teror.

Hal tersebut bukanlah indikator dari nyali baja dan keberanian, yang terjadi sebanarnya dalah masyarakat sangat kebal (tidak peka) terhadap sinyal bahaya pada saat itu. Setiap saat butiran peluru, sepleton teroris atau bahkan sebuah bom bisa saja menghujam jasad mereka. Kejadian ini menjadi indikator lemahnya mental dan kesadaran masyarakat Indonesia untuk secara bersama-sama melindungi diri dari ancaman dan bahaya yang dapat merenggut kemerdekaan jasad.

Pada segmen kedua, ilmu kebal jasad masyarakat ditunjukkan dengan tidak adanya mental empati untuk melindungi masyarakat lainnya dari ancaman nyata. Pada saat teror berlangsung, terdapat beberapa orang yang berhadapan dan terjebak langsung dengan aksi teror.

Kalau saja masyarakat yang berkumpul tak jauh dari area inti teror tersebut secara bersama-sama menolong beberapa orang yang sedang mendapatkan teror langsung itu, mungkin dampak psikologis dari tragedi ini tidak terlalu buruk. Walaupun misalnya dilakukan pertolongan secara bersama-sama juga berpotensi menghilangkan nyawa salah satu masyarakat tersebut, akan muncul semangat dan kemudian tersinyalkan bahwa Indonesia memiliki rasa empati dan sosial yang tak dapat dikalahkan oleh hal berbahaya apapun.

 Dari ilmu kebal kedua yang ditunjukkan ini, terdapat konklusi bahwa masyarakat Indonesia belum paham makna berbangsa dan bernegara. Ini adalah hantaman keras tepat ke kepala bagian atas kita, kita mesti memperbaiki proses berpikir hingga sekolah berpikir untuk memperbaiki pemahaman yang terinternalisasikan tentang berbangsa dan bernegara.

Pagelaran Aji Kungkum ternyata berhasil menampilkan pertunjukkan yang beresensi tinggi. Namun esensi tersebut hanya dapat dilihat menggunakan “kaca mata” moralitas. Jika sudah melihat esensinya, maka berkontemplasilah dan menjadi “obat”lah kita untuk keadaan krisis ini.
Selain apresiasi kepada “Pagelaran Aji Kungkum di Sarinah”, perlu juga diberikan apresiasi kepada teroris yang dengan keikhlasan dan tanpa pamrih datang mengunjungi Indonesia.

Sebab dengan datangnya mereka, masyarakat Indonesia dapat merasakan rasa cinta dan benci secara bersamaan. Cinta karena mereka dengan cuma-cuma dan tanpa bayaran serupiah pun memberikan Indonesia alat untuk melakukan kontemplasi atas krisis yang ada di Indonesia.

Bencinya masyarakat bukan karena jatuhnya korban jiwa, tapi kebencian itu bernada kurang lebih seperti ini, “Istana Presiden, Kantor DPR dan sejenisnya tidak jauh lagi dari Sarinah. Kenapa enggak di sana aja bomnya meledak?”.

#NikmatnyaSeranganFajar    

Jutaan Umat Islam Indonesia Telah Bersatu Dalam Gerakan Masif, Tak Pernah Disangka

Sebelumnya

Ketergilasan Gerakan Masif Jutaan Umat Islam Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Serangan Fajar