post image
KOMENTAR
Cuaca di puncak Gunung Aconcagua, Argentina, sulit diprediksi dan dapat berubah secara ekstrem dalam waktu singkat. Hal inilah yang sering menjadi kendala dalam pendakian Aconcagua.

Tim Ekspedisi Indonesia Raya yang diperkuat pendaki tunadaksa Sabar Gorky, lima anggota Korps Marinir TNI AL, dua pecinta alam dan seorang wartawan Kantor Berita Politik RMOL dalam beberapa hari terakhir berupaya melalui cuaca dingin dan badai yang berbahaya dan sering disebut dengan julukan El Viento Blanco.

"Sudah beberapa hari ini kecepatan angin mencapai 30 knot dan suhu minus 25 derajat di malam hari," jelas Dansatgas Pendakian Letkol Marinir Rivelson Saragih, Jumat siang waktu Argentina (4/3) atau Sabtu dinihari waktu Indonesia (5/2).

Para pendaki Ekspedisi Indonesia Raya telah beberapa kali mengalami serangan badai dalam upaya summit attack ke ketinggian 6,962 mdpl. Dengan semangat juang yang tak kenal lelah para pendaki terus berupaya melangkahkan demi mengibarkan merah putih di puncak tertinggi nomor dua di dunia itu.

Upaya menembus badai untuk mencapai puncak Aconcagua harus terhenti di titik 6.600 mdpl. Di saat bersamaan jarak pandang menjadi sangat terbatas ditambah dengan tiupan angin yang kuat dan dapat menghempaskan para pendaki.

"Bagaimanapun juga, keselamatan adalah hal yang utama dan di atas segala-galanya," jelas Promotor Ekspedisi Teguh Santosa yang sudah dua hari memantau pendakian di Mendoza, Argentina.

Menurut Teguh Santosa, para pendaki telah berupaya maksimal dan mempertaruhkan nyawa.

Angin kencang yang dapat mencapai 90 km/jam bertiup bersamaan dengan kabut dan ditambah dengan hujan salju merupakan gambaran sederhana dari badai berbahaya ini.

El Viento Blanco ini juga yang diduga menjadi penyebab meninggalnya salah satu pendaki berpengalaman dari Indonesia yaitu (alm) Norman Edwin dan rekannya (alm) Didiek Samsu pada saat melakukan ekspedisi di Aconcagua tahun 1992.

"Kemarin ada dua orang pendaki dari negara lain yang harus dievakuasi karena mengalami pembusukan pada ruas jari di tangan akibat tidak memakai pelindung standar pendakian. Bahkan banyak juga pendaki yang harus dievakusai dari ketinggian 5.400 mdpl," ujar Teguh Santosa.

Kendati upaya mencapai puncak Aconcagua dalam kesempatan kali ini tertunda, namun semangat anggota Tim Ekspedisi Indonesia Raya tidak surut. Ekspedisi akan kembali ke Aconcagua di musim pendakian mendatang sekitar akhir tahun. Pendakian Aconcagua di musim mendatang akan dilakukan satu paket dengan pendakian Gunung Vinson di Antartika.

Adapun di bulan Agustus 2016, Ekspedisi Indonesia Raya dijadwalkan mendaki Gunung Denali di Alaska. [hta/rmol]

Komunitas More Parenting Bekerja Sama Dengan Yayasan Pendidikan Dhinukum Zoltan Gelar Seminar Parenting

Sebelumnya

Sahabat Rakyat: Semangat Hijrah Kebersamaan Menggapai Keberhasilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Komunitas