"KPK tak jantan dalam menguak dalang korupsi yang sebenarnya melibatkan keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," kata Jurubicara Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Anti Cikeas, La Ode Ahmadi, di depan kantor KPK, Jakarta Selatan, saat berorasi bersama puluhan aktivis Gerakan HMI Anti Cikeas, Jumat (15/2).
Menurutnya, KPK adalah lembaga yang diamanatkan UU untuk membasmi korupsi yang sudah mengakar dan menggurita. Nyatanya, KPK mengecawakan.
Gerakan HMI Anti Cikeas mendesak agar KPK tak ragu dalam mengusut adanya dugaan keterlibatan Ani dan Ibas yang mereka sebut sebagai aktor intelektual di balik skandal korupsi Hambalang.
"Kami menolak keras intervensi KPK yang dilakukan Istana," tegas mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) Jakarta itu.
Setelah menyampaikan orasinya, perwakilan Gerakan HMI Anti Cikeas menyerahkan replika borgol ukuran besar kepada aparat di KPK.
Ibas memang sempat dikabarkan menerima aliran dana dari mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Kabar ini beredar di jejaring sosial Twitter dari akun AbimanyuAbiputro, beberapa hari lalu, Minggu (10/2).
Akun itu memberikan bukti foto yang disebutnya laporan keuangan perusahaan Muhammad Nazaruddin yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam laporan tersebut, putra SBY yang akrab dipanggil Ibas itu menerima US$ 900 ribu di kurun waktu 18 Januari-29 Desember 2010.
Selain Ibas, Nazaruddin juga mengalirkan dana ke mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng, sebesar US$ 500 ribu untuk satu proyek. Aliran dana itu dialirkan dalam waktu yang sama dengan Ibas.
Selain itu, berdasarkan pemberitaan salah satu media nasional, kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap Nazaruddin, sesaat sebelum eks Bendum Demokrat itu melarikan diri ke luar negeri, 23 Mei 2011. Menurut sumber media itu yang kala itu menyaksikan pertemuan tersebut, Presiden SBY sangat marah, sampai dua kali menggebrak meja.
Gebrakan yang pertama, setelah Nazar mengatakan bahwa Edhie Baskoro pernah menerima uang darinya yang diambil dari kas partai. Gebrakan kedua, yang menyebabkan meja terpelanting, dilakukan sesudah Nazaruddin menyebutkan Ani Yudhoyono pun menerima uang darinya US$ 5 juta yang berasal dari kas Demokrat, dan merupakan pemberian Pertamina. [ald/rmol/ans]
KOMENTAR ANDA