namun, meski sudah menyampaikan temuan Komite Etik yang menyimpulkan Sekretaris Abraham Samad, Wiwin Suwandi, sebagai pelaku utama, Komite Etik malah tak mengungkap motif di balik tindakan tersebut.
Demikian Ketua Setara Institute, Hendardi, kepada Rakyat Merdeka Online (Rabu 3/4/2013).
"Jadi tidak bisa hanya dipandang sebagai soal etik saja. Padahal, motif tindakan pembocoran yang justru akan menjadi penentu jenis sanksi yang akan dikenakan. Di sisi lain, kerja Komite Etik tidak mampu atau sengaja tidak mau menelisik motivasi pembocoran baik dari Abraham maupun Sekretarisnya," kata Hendardi.
Menurut dia, pembocoran sprindik Anas itu terkait dengan politik tingkat tinggi di tubuh Demokrat dan istana kepresidenan. Tidak terungkapnya motif, kata dia lagi, menjadikan tidak adanya pembelajaran penting yang bisa dipetik untuk mengawal integritas dan independensi KPK dari intervensi politik.
"Kita kehilangan kesempatan untuk mempelajari bagaimana kekuasaan bekerja mempengaruhi lembaga independen hanya untuk tujuan politik," sesal Hendardi. [hta]
KOMENTAR ANDA