post image
KOMENTAR
Salah satu pria bersenjata yang terlibat dalam penyanderaan dan pembantaian 21 sandera di sebuah kafe di Dhaka, Bangladesh, pada akhir pekan lalu, adalah putra dari seorang pemimpin partai berkuasa di sana.

Dalam sebuah wawancara dengan NDTV, politisi Bangladesh dari Liga Awami, Imtiaz Khan Babul, mengidentifikasi anaknya yang berusia 21 tahun, Rohan Imtiaz, sebagai salah satu lima penyerang yang menyerbu Holey Artisan Bakery.

"Aku melihat gambar yang dirilis oleh ISIS itu, lagi dan lagi sebelum aku  konfirmasi itu adalah anak saya. Saya terpana melihat itu," kata Babul dikutip dari CNN.

Babul mengaku idak pernah melihat sesuatu yang abnormal atau mendapat indikasi anaknya terlibat dalam aksi kelompok militan atau Islam radikal.

"Saya tidak pernah melihat dia membaca atau mengakses materi jihad. Dia punya perangkat mobile. Saya tidak tahu apakah dia membaca materi jihad melalui itu. Seseorang pasti menanam pikiran radikal ini di kepalanya," ujar Babul

Ayah dari penyerang lainnya, Meer Hayet Kabir, mengaku belum mempercayai bahwa anaknya terlibat dalam penyanderaan itu. Dia adalah ayah dari Meer Sameh Mobasheer. Sama seperti penyerang yang lain, Mobasheer juga tewas ditembak petugas keamanan saat pembebeasan sandera.

"Ini tidak bisa dipercaya, Saya masih ingin percaya bahwa Sameh tidak di antara mayat-mayat itu. Saya masih ingin menunggu dan berharap,” ujarnya.

Para penyerang di Dhaka itu diketahui belakangan terdiri dari anak-anak muda, terdidik di sekolah atas yang baik dan menerima pendidikan sekuler.

Peneliti dari Bangladesh Enterprise Institute, Faiz Sobhan, menyebut latar belakang para penyerang itu "membingungkan".

"Mereka orang-orang biasa, yang nongkrong di kafe, bermain olahraga, memiliki halaman Facebook," katanya.

Hampir semua penelitian berbasis di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 70 pemuda militan yang direkrut ISIS berasal dari kelas menengah atau latar belakang orang kaya.

Banyak berasal dari keluarga sekuler, dan tidak terlalu religius sebelum mengalami radikalisasi. Mereka mempelajari ISIS dan ideologinya pada situs-situs seperti YouTube.[rgu/rmol]

LPM dan FKM USU Gelar Edukasi Kesahatan dan Pemberian Paket Covid 19

Sebelumnya

Akhyar: Pagi Tadi Satu Orang Meninggal Lagi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel