post image
KOMENTAR

Persatuan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas YARSI (Persaluny) mengadakan sarasehan, mencari solusi penanggulangan stunting di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada akhir pekan lalu.

Persaluny mengadakan arasehan penanggulangan stunting bersama seluruh stakeholder utamanya alumni Fakultas Kedokteran Universitas YARSI di berbagai sektor. Diantaranya, Kementerian Kesehatan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Ikatan Dokter Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Universitas YARSI, Rumah Sakit YARSI, dan Pertamedika IHC.

Persaluny merupakan organisasi alumni yang didirikan pada tahun 1991, beranggotakan lebih kurang 7.000 orang dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas YARSI yang tersebar di seluruh Indonesia.

Saat ini Persaluny dipimpin oleh Efmansyah Iken Lubis, alumni tahun 1987. Efmansyah Iken Lubis mengatakan dari sarasehan ini diharapkan dapat mendorong peran aktif alumni dan menghasilkan rekomendasi untuk para stakeholder yang dapat digunakan untuk menurunkan angka stunting di Indonesia.

“Yaitu standarisasi pencegahan dan penanganan kasus stunting oleh dokter, misalnya pemantauan ibu hamil dan bayi lahir, menghasilkan data stunting yang akurat, dan alokasi dana untuk pencegahan stunting,” kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (3/3).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen, sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen. Angka yang tergolong tinggi ini merupakan suatu ancaman terhadap ketahanan bangsa di masa mendatang.

“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menyelesaikan masalah stunting. Stunting adalah pekerjaan besar multisektoral baik pemerintah, swasta, pegiat rumah sakit, akademisi dan tokoh agama,” demikian Efmansyah Iken Lubis.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Diet, Bukannya Ideal Malah Tambah Gemuk

Sebelumnya

Ini Penjelasan Dr. Inggrid Tania Soal Manfaat Temulawak Dan Kunyit Hadapi Covid-19

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Kesehatan