Menurut Najib, sejauh ini pihaknya masih melakukan penelitian terhadap kemungkinan pembajakan tersebut. Apalagi jika merujuk pada gerakan terbang pesawat yang disengaja dalam penerbangan itu, misalnya terkait sistem komunikasi (transponder) pesawat.
"Ada kemungkinan besar bahwa transponder dimatikan secara sengaja. Gerakan pesawat konsisten dengan aksi yang sengaja dilakukan seseorang di dalam pesawat," kata PM Razak.
Razak tidak mengucapkan secara terang-terangan mengenai pembajakan seperti yang dilaporkan berbagai laporan media.
Namun, dia mengonfirmasi bahwa pesawat itu kemungkinan besar dikendalikan oleh seseorang yang kemudian memutarbalik pesawat ke arah barat laut.
Hal itu dikarenakan fakta yang disimpulkan bahwa transponder dimatikan secara sengaja tak lama setelah pesawat itu hilang kontak.
Fakta bahwa perangkat radar dimatikan pada interval 14 menit dari satu sama lain menunjukkan alat-alat itu sengaja dinonaktifkan atau setidaknya tidak rusak akibat insiden kecelakaan, demikian dikatakan jaringan AS.
Transponder dimatikan 30 menit setelah komunikasi suara akhir dari kokpit, sekitar waktu yang sama yang diyakini Malaysia bahwa pesawat itu balik arah.
Hal itu menunjukkan bahwa seseorang yang tak memiliki wewenang mengambil alih pesawat, seperti penyusup atau salah satu pilot, seperti dikatakan Washington Post yang mengutip pakar kecelakaan penerbangan. [ded|bbs]
KOMENTAR ANDA