post image
KOMENTAR
Jenderal bintang tiga ini menduga ada oknum sipir Lembaga Pemayarakatan (LP) yang terlibat dalam peredaran narkoba di dalam LP Kelas II-AJambi. Pasalnya, setelah dilakukan tes urine, ditemukan 20 narapidana positif narkoba.

Kata Buwas- sapaan akrab Budi Waseso, tidak mungkin napi bisa positif narkoba kalau tidak ada oknum petugas terlibat membantu masuknya narkoba ke dalam penjara. Berikut penutur­an Buwas terkait hal tersebut;

Apa pandangan anda terkait kerusuhan yang terjadi di LP Jambi?
Saya tidak bisa sampaikan ya. Karena itu menyangkut kesatuan dari Dirjen LP. Yang jelas saya sudah sampaikan kepada beliau, LP-LP yang terbukti digunakan para pelaku yang ada di dalam pembinaan LPitu untuk melaku­kan kegiatannya.

Memangnya ada berapa LP sih yang terindikasi di dalam­nya ada praktik peredaran narkoba?

Ada 39 lapas. Ada yang be­rada di Jawa, ada yang di luar Jawa.

Termasuk LP Jambi itu...

Tidak hanya kasus ini. Semua yang kita ungkap tadi tuh ada 39 lapas.

Sebenarnya apa sih peran napi di LP Jambi itu dalam kasus narkoba?
Napinya juga sebagai penge­dar. Mengendalikan jaringan.

Anda melihat kerusuhan itu sebagai bagian upaya mereka menghilangkan barang bukti narkoba di dalam lapas?
Bisa saja. Kalau indikasi ya bisa saja. Mereka kan menolak itu supaya tidak ketahuan. Di Lapas itu kan terbukti kalau masih ada peredaran. Kan dia di dalam lapas, masa dia bisa positif. Berarti kalau gitu ya dia pakai narkoba. Kalau pakai, ya barang itu ada di dalam lapas.

Bagaimana alur peredaran­nya sehingga narkoba itu bisa masuk ke dalam LP?

Ya barang itu ada di dalam lapas karena pasti ada oknum. Sehingga barang itu bisa masuk. Nah itu persoalannya. Mudah padahal. Gampang menganalisanya.

Terus dugaan sementara, apakah ada keterlibatan sipir?

Ini sedang kita dalami. Karena itu, dari pihak Polri juga men­elusuri masalah itu ya. Kita lihat lagi nanti ya.

Kenapa sih BNN masih tidak leluasa masuk ke lapas?
Ya karena itu kan ada ke­wenangannya dan terus nggak bisa sembarangan itu. Kan ada kewenangan dari institusi itu, kita hargai itu.

Tapi masih ada kemungki­nan kan untuk BNN masuk ke lembaga pemasyarakatan?

Bilamana upaya-upaya sudah maksimal namun tidak bisa lagi dan (Ditjen LP, red) tidak bisa, hand up artinya lapas tidak bisa mengatasi lagi, ya kita akan me­nangani itu. Semua kita lakukan demi kepentingan bangsa ini ya.

Sejauh ini apa sudah ada koordinasi dengan Kemenkumham agar BNN leluasa masuk ke lapas?

Hmm.. Bukan begitu. Kita sudah menyampaikan aturan bagaimana untuk mengatasi itu dengan saran, masukan kepada Dirjen LP maupun kepada Menkumham dan sebenarnya Dirjen LP dan Kemenkumham sudah melakukan penertiban ke dalam. Hanya saya tidak tahu apa yang menjadi kendalanya, apa kele­mahannya sejak ini tidak bisa ditangani secara cepat.

Soal lain. Belum lama ini ada usulan dari LSM, agar pemakai narkoba tidak perlu ditahan, namun direhabilitasi saja. Apa tanggapan Anda soal itu?
Jadi begini, jangan langsung direhab. Kan harus ada masalah hukum. Hanya bagi yang baru coba-coba, baru menggunakan atau pemula, itu dikenakan hu­kuman sosial.

Hukuman sosial seperti apa yang Anda maksud?

Kewajiban dia untuk melaku­kan kerja bakti, membersihkan got di pasar-pasar, itu tanggung jawab yang diberikan kepada dia atas hukuman sosial. Jadi tidak semua harus ditahan atau dikurung.

Apa hukuman sosial sendiri sudah sudah diterapkan di BNN?
Belum, makanya kita harus benahi itu undang-undangnya.

Lalu apa alasan BNN mem­berikan hukuman mati kepada gembong narkoba?

Yang jelas kan, tindakan kita harus tindakan yang tegas dan tindakan yang keras. Karena mereka ada pelaku-pelaku pem­bunuhan generasi bangsa ini. Ya makanya kita harus tegas di lapangan. Oleh sebab itu kita diberikan oleh negara persen­jataan baru. Ini juga sudah ada pembuktian bahwa mereka sudah benar-benar ada perla­wanan.

Oh ya sudah semakin nekat ya perlawanan para bandar narkoba itu...
Beberapa iya. Kemarin dari penegakan hukum yang kita lakukan di Tangerang juga meng­gunakan senjata. Jadi indikasi-indikasi itu sudah jelas ya, mer­eka bersenjata dan senjata (itu) relatif cukup bagus. Kayak tadi, amunisinya sembilan milime­ter. (Kaliber) sembilan mili itu adalah amunisi yang digunakan oleh TNI-Polri. Berarti mereka sudah mengimbangi punya TNI-Polri. Kita sudah sita dua pucuk senjata api yang dimiliki oleh jaringan ini, dan itu digunakan untuk melawan kita. Karena ada perlawanan-perlawanan, seh­ingga dilakukan tindakan oleh anggota di lapangan. ***

LPM dan FKM USU Gelar Edukasi Kesahatan dan Pemberian Paket Covid 19

Sebelumnya

Akhyar: Pagi Tadi Satu Orang Meninggal Lagi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel